
Subuh ini hujan masih terus mengguyur walaupun rintik-rintik, sebagai berkah untuk kehidupan dibumi. Gemercik suaranya meninabobokan insan untuk tidur semakin pulas. Padahal ada kewajiban antara manusia dan Tuhannya. Kewajiban manusia beribadah memuja dan bersyukur terhadap sang Maha Pencipta.
Pohon-pohon bergoyang tertiup hembusan angin, sambil menanti datangnya sinar mentari. Irama alam menari tak beraturan tapi berirama. Pohon cemara terlihat begitu subur didepan rumah, sementara awan masih terlihat menumpuk dilangit pertanda hujan masih akan turun.
Pikiran menerawang ke masa silam, jika hujan tiba kami berangkat sekolah berteduhkan daun pisang. Begitu pula teman-teman yang lain begitu bersuka cita menggunakan peneduh dari daun pisang, Tubuh kecil kami terlindung dari guyuran air hujan Dan tiba disekoalh pun dalam keadaan kering.
Daun pisang yang lebar memang sangat nyaman untuk dijadikan “paying” akan tetapi kita harus berhati-hati. Jika tidak maka getah daun pisang akan menjadi cendramata yang tak bisa terlupakan dan menempel dibaju berbentuk noda berwarna coklat tua.
Jika malam hari hujan, suara-suara serangga terkalahkan oleh suara gemercik air hujan. Di radio 2 Band terdengar suara kecapi pengiring acara dongeng. Dongeng berseri yang menceritakan tentang kehidupan-kehidupan masa-masa lalu, sejarah atau kisah-kisah penjajahan belanda. Membuat kita mereka-reka tokoh dan keadaan dimasa lalu.
Ah, Hujan sudah mulai reda langit sudah terlihat memutih seiring dengan berjalannya waktu, melaksanakan rutinitas sebagai kewajiban untuk mencari rhido-Nya. Semoga apa yang kami lakukan hari ini diberi kemudahan dan selalu dijalan-Nya.





Recent Comments