Hujan

3 12 2008

 

Subuh ini hujan masih terus mengguyur walaupun rintik-rintik, sebagai berkah untuk kehidupan dibumi. Gemercik suaranya meninabobokan insan untuk tidur semakin pulas. Padahal ada kewajiban antara manusia dan Tuhannya. Kewajiban manusia beribadah memuja dan bersyukur terhadap sang Maha Pencipta.

Pohon-pohon bergoyang tertiup hembusan angin, sambil menanti datangnya sinar mentari. Irama alam menari tak beraturan tapi berirama. Pohon cemara terlihat begitu subur didepan rumah, sementara awan masih terlihat menumpuk dilangit pertanda hujan masih akan turun.

Pikiran menerawang ke masa silam, jika hujan tiba kami berangkat sekolah berteduhkan daun pisang. Begitu pula teman-teman yang lain begitu bersuka cita menggunakan peneduh dari daun pisang, Tubuh kecil kami terlindung dari guyuran air hujan Dan tiba disekoalh pun dalam keadaan kering.

Daun pisang yang lebar memang sangat nyaman untuk dijadikan “paying” akan tetapi kita harus berhati-hati. Jika tidak maka getah daun pisang akan menjadi cendramata yang tak bisa terlupakan dan menempel dibaju berbentuk noda berwarna coklat tua.

Jika malam hari hujan, suara-suara serangga terkalahkan oleh suara gemercik air hujan. Di radio 2 Band terdengar suara kecapi pengiring acara dongeng. Dongeng berseri yang menceritakan tentang kehidupan-kehidupan masa-masa lalu, sejarah atau kisah-kisah penjajahan belanda. Membuat kita mereka-reka tokoh dan keadaan dimasa lalu.

Ah, Hujan sudah mulai reda langit sudah terlihat memutih seiring dengan berjalannya waktu, melaksanakan rutinitas sebagai kewajiban untuk mencari rhido-Nya. Semoga apa yang kami lakukan hari ini diberi kemudahan dan selalu dijalan-Nya. 





Menolong

12 11 2008

Waktu sudah menunjukan pukul 18.30, hujan baru saja berhenti setelah setengah hari mengguyur bumi priangan. Tiba-tiba handphone ku berdering ada panggilan dari nomer yang belum saya kenali dan belum terdaftar di phone book. Segera kuangkat dan ternyata adalah sahabat lama kami seorang perempuan perkasa yang minta tolong karena data-data berharganya raib dari harddisk notebook-nya.

Menurutnya ia tidak pernah menghapus atau memindahkan data-data tersebut, sudah dicari-cari tapi masih tetap ngga ada. Akhirnya tepat sebelum isya ia pun dating ke tempatku. Dengan sedikit pengalaman saya pun mencobanya untuk mengutak-atik dan ternyata memang benar data-data tersebut sudah tidak ada dari hard-drive.

Sejurus kemudian saya keluarkan software recovery, mencoba melihat data-data yang sudah terhapus, sambil melihat ketegangan wajahnya. Memang sedari tadi keadaaannya memprihatinkan tegang dan sedikit prustasi.

Setelah menunggu berjam-jam akhirnya proses nya pun selesai tepat pukul 21.10, setelah saya memperlihatkan data-data yang telah saya recover, ternyata benar itu datanyanya yang hilang. Kontan wajahnya menjadi sumringah, ceria. Bahagia rasanya bisa menolong orang. Menolong yang kesusahan. Dengan rasa syukur dan menghela nafas panjang akhirnya selalu ada kemudahan didalam kesulitan.

Setiap insan berhak atas kebahagiaan, setiap insan berhak atas kebebasan diri.

Di malam berikutnya tepat pukul 21.00 saya pun melihat wajah bahagia seorang perempuan berbeda yang meminta bantuan kepada saya . Butuh perjuangan dan kesabaran untuk menolong seseorang. Pengorbanan waktu, materi dan beban moral. Wajahnya begitu sumringah ketika saya datang untuk memenuhi keinginannya setelah menunggu saya berjam-jam.

Ada hikmah disetiap kejadian, terimakasih ya Rabb. Menolong atau sadaqoh itu tidak harus menunggu kita kaya…

 

 





semenanjung kenangan

15 09 2008

ramadhan 1429h

Laut biru begitu lapang, menyambut kedatanganku dipesisir itu. Sudah lama ditinggalkan, tanpa memberi kabar atau sekedar menitip salam. Gelombang mendorong ombak berkejar-kejaran menuju pesisir. Memecah suasana bosan setiap insan.

Terdapat segerombolan ibu-ibu penyapu pantai tengah asyik menyapu sampah-sampah organik dan anorganik. mereka begitu menghayati perannya. tanpa sedikitpun ada keluh kesah diwajahnya. tugas mereka di bulan ramadhan ini tidak terlalu berat. tidak banyak pengunjung pantai yang membuang sampah sembarangan.

Indahnya ramadhan di pantai ini, tanpa ada pemandangan bule berbikini, tanpa adanya abg-abg ingusan berpacaran, tanpa adanya pengunjung yang memakai ‘kain’ seadanya. Segala maksiat dipantai ini seakan sirna, tersapu oleh gelombang ramadhan.

Tetapi seperti halnya rumput teki yang dipangkas sebatas tanah sementara akar dan umbinya masih ada, maka dengan cepat dapat tumbuh kembali dan dalam jumlah yang lebih banyak. Seusai ramadhan ini, dan lebaran sebagai garis start nya, segala maksiat mulai tumbuh kembali, memperkuat dan menyuburkan tumbuh kembali, menggemukan umbi-umbi maksiat yang akan memunculkan tunas-tunas baru dan mejalarkan akar-akarnya untuk menumbuhkembangkan umbi baru.

Ah tapi aku ingin menikmati ramadhan ini tanpa diisi oleh khayalan-khayalan ngga penting tentang masa depan pantai ini. Tentang penjaja maksiat, tentang kekotoran area ini. aku ingin benar bebas karena setiap insan berhak atas kebebasan diri.

Aku teringat kembali 8 tahun yang lalu, setiap sore kami bermain bola dipantai ini atau lari telanjang kaki sepanjang bibir pantai. menunggu sunset diufuk barat. berenang sehabis bermain bola, menghilangkan pasir yang menempel dibadan dan membeli bandros untuk mengganjal perut yang keroncongan.

Rinduku begitu dalam pada kenangan-kenangan masa lalu. masa-masa aku sering menghabiskan waktu bersama pemisah antara lautan dan daratan yang selalu berebutan memperebutkan wilayah kekuasaan.





renungan ramadhan

31 08 2008

Tetesan air dari stalaktit setetes demi setetes membuat cekungan pada batuan yang ada dibawahnya. Cekungan itu terbentuk selama ratusan tahun karena efek tetesan air dengan sedikit kadar kapur. Akan tetapi jika air itu mengandung kapur berlebihan maka akan terjadi sebaliknya batuan dibawahnya akan menumpuk dan membuat gunungan kecil dan lancip itu lah yang disebut stalakmit.

Begitupun juga manusia, jika kita mau berlajar dan bersungguh-sungguh maka kita pun akan bisa dan paham. Ilmu yang kita ketahui dan pahami haruslah diamalkan. Seperti halnya golok yang akan menjadi tajam jika sekalu diasah dan akan tumpul jika tidak kita asah. Maka ilmu manusia pun perlu diasah agar tidak tumpul, perlu diamalkan agar bertambah. Dan sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat.

Aliran air diantara stalaktit dan stalakmit yang mengandung fosfor akan mengendap disekitar bebatuan yang dilewatinya secara vertikal. Jika aliran itu kering maka jika kita sorot dengan lampu senter akan terlihat seperti ribuan crystal kecil yang memantulkan cahaya begitu indahnya, berkilauan. Begitulah jika ilmu yang bermanfaat kita amalkan maka selain bertambah ilmu itu akan menjadi cahaya penerang dengan ribuan kilauan cahaya bagi siapa saja yang menerimanya.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, maka pergunakan hari ini dengan sebaik-baiknya. Pergunakanlah ilmu kita agar kita lebih dekat pada-Nya.





Berbuka Berlebihan

31 08 2008

Siang dipendam malam balas dendam

Kutipan sederhana diatas adalah tagline iklan salah satu produsen rokok. Tepatnya ramadahan tahun lalu di 1428 H. Iklannya begitu mengena, secara jujur saya juga ikut tersindir oleh iklan ini anda mungkin juga salah satunya.

Nafsu memang selalu membuat kita lupa, jika kita tidak bisa mengontrolnya. Padahal di ramadhan ini arti shaum lah  agar kita senantiasa bisa mengendalikan hawa nafsu. Agar pintu maaf yang telah terbuka dapat kita gunakan semaksimal mungkin, berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena segala amalan di bulan suci ini pahalanya dilipatgandakan.

Jika kita berbicara shaum maka kita harus sesuai dengan anjuran yang diajarkan rasulullah. Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang. Isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya biarkan kosong.

Wahai anak adam (manusia) ambilah pakaianmu ketika hendak memasuki masjid (sholat), makan dan minumlah dan jangan engkau berlebih-lebihan, karena Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS al-A’raf : 31).

Hakikat shaum (puasa) sesungguhnya bukanlah hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, akan tetapi menahan diri dari ucapan dan perbuatan kotor yang merusak dan tidak ada manfaatnya. Bahkan juga kemampuan untuk mengendalikan diri terhadap cercaan dan makian orang lain. Itulah sebagian dari pesan Rasulullah SAW terhadap kaum Muslimin yang ingin puasanya diterima Allah SWT (HR Ibn Huzaimah, Ibn Hibban, dan al-Hakim).

Semoga ibadah shaum kita menjadikan transformasi perilaku ke arah yang lebih baik, menjadikan kita peka terhadap lingkungan sekitar agar kita mau berbagi. Itulah inti kenapa kita tidak boleh berlebihan agar kita bisa berbagi dan beramal. Semoga.





Cerita Ombak

30 08 2008

Sejak bada subuh aku mulai menyiapkan barang dagangan yang akan dijual hari ini. Umumnya diakhir pekan ini banyak pengunjung yang berwisata ke daerah pesisir. Menghilangkan kepenatan selama sepekan bekerja. Berjualan didaerah wisata pesisir memang sangat menyenangkan. Pagi ini pun kami dapat menyaksikan sunrise yang bersinar begitu indah. DiPantulkan oleh lautan – teluk yang melingkar hampir seperti huruf c.

Didepan ombak saling sambung-menyambung menghempaskan tubuhnya pada pasir yang membentang luas. Seolah ingin menghancurkan apa saja yang berada didepannya. Menghasilkan gemuruh disetiap benturannya. Tak inginkah engkau mendengarkan keluh kesah ku?

Ombak itu begitu peka, sedikit saja engkau sombong maka ia akan menyeretmu kedalam pusaran. menenggelamkan tanpa ampun. Alam itu seperti orang tidur walaupun kelihatanya diam tapi ternyata banyak organ-organ tubuh yang bekerja semisal : jantung yang tak pernah berhenti dari mulai kita dilahirkan, paru-paru sang pengambil oksigen, darah yang mengalir, pencernaan makanan, dan lain sebagainya. Jika sistem dalam tubuh kita sudah berhenti bekerja itulah yang dinamakan kematian.

Bagi alam diam dan bergerak, adalah bagaikan dua bagian mata uang yg tak terpisahkan. Alam adalah juga gambaran betapa alam ini telah diatur dengan begitu sempurna nya.

Ombak merupakan bagian aktivitas dari alam, dengan sifatnya dipengaruhi oleh air laut yang selalu pasang dan surut. Tapi dalam fenomena alam ombak bisa mencapai beberapa meter tingginya dari daratan itulah yang disebut tsunami. Akibat adanya longsoran besar didasar laut yang menyebabakan air laut surut beberapa puluh meter dari bibir pantai, lalu dengan tiba-tiba mengirimkan kembali dalam \tenaga yang begitu besar. Menghancurkan apa saja yang ada didepannya, tak kecuali manusia.





Membuka Pagi

29 08 2008

Sinar keemasan begitu membuatnya terpesona. Pantulan cahaya pembuka hari itu terasa begitu indah. Kabut yang menyelimuti danau itu perlahan mulai terbuka, tergantikan oleh hangatnya mentari. Seperti putrimalu yang tersentuh suatu objek atau karena pergantian malam dan siang, ia akan menutup dan membuka daunya secara otomatis. Rumput-rumput yang dilapisi embun membasahi kedua kakinya. Inilah suasana yang begitu ia rindukan, suasana romantik diantara kesendirian dan kenangan. Di Ujung danau itu ia berdiri, menatap keindahan ciptaan-Nya.

Imajinasinya mengingatkan ia 15 tahun yang lalu, dimana ia sering menatap mentari pagi bersama ayah dan ibu. Bersama-sama menikmati kedamaian pagi, sambil menenteng rantang. Hampir disetiap pagi dimusim tanam ia selalu diajak ayah dan ibunya untuk pergi ke ladang dan sawah. Setiap habis turun hujan ada asap-asap putih yang mengepul dari hutan-hutan diseberang ladang, seperti asap hasil pembakaran kayu ditungku yang apinya padam. Maka bara-bara itu segera mengeringkan batang kayu dan membuatnya menghasilkan asap yang begitu banyak. Mengepul ke atap rumah seperti terjadi kebakaran yang dahsyat.

Setiap turun hujan diladang kami selalu berteduh dibawah batu besar yang mempunyai cekungan kedalam didekat permukaan tanah. Sambil menyaksikan tetesan air hujan yang merambat melalui akar-akar tanaman rambat. Sambil menerawang masa depan tanpa kejelasan ataupun pesimistik. Yang kami tahu hanyalah bagaimana tanaman-tanaman ladang kami tumbuh subur, terawat dan menghasilkan hasil panen yang maksimal.

Disamping ayah dan ibunya ia begitu damai, kesederhanaan menjalani hidup tidak kekurangan tidak juga berlebihan. Dari ayah ibu nya lah ia belajar bagaimana harus banyak memberi dan sedikit berharap. Banyak berbuat daripada banyak berbicara. Tapi kini ia harus menjauh dari keduanya, demi cita-cita dan mimpinya.

Itulah imajinasi ketika ia menatap mentari, ia rindu masa-masa kecilnya. Masa-masa bercengkrama dengan alam. Menikmati setiap kejadian alam yang begitu mempesona, yang syarat dengan makna. Karena alam begitu peka, mereka sedang berdzikir kepada-Nya.